
Inovasi TMMD ke-128 Cilegon: Pemanfaatan Material Lokal untuk Renovasi Tempat Ibadah
Cilegon – Pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 yang diprakarsai oleh Kodim 0623/Cilegon di Banten tidak sekadar berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Program ini juga membawa tujuan untuk memperkuat ekonomi lokal dan melestarikan kearifan masyarakat setempat.
Salah satu bukti nyata dalam komitmen ini terlihat dari proyek rehabilitasi total atas sebuah mushola di Lingkungan Langon, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Tim Satgas TMMD menerapkan pendekatan hibrida dalam renovasi, menggabungkan desain bangunan modern dengan material atap berbasis tradisional.
Brigjen TNI Daru Cahyadi, Komandan PKP Danrem 064/MY, dihadapan Dansatgas TMMD Kodim 0623/Cilegon, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan kajian mendalam terkait aspek teknis, keamanan struktur, kenyamanan jemaah, serta dampak ekonomi sosial yang ditimbulkan, di mana hal ini mendukung inisiatif pemerintahan tentang penggunaan genteng lokal.
“Rehabilitasi mushola ini memiliki beberapa prioritas pekerjaan. Rangka atap yang sudah tua dan tidak layak diganti dengan baja ringan agar lebih kuat dan aman untuk penggunaan jangka panjang. Namun, untuk penutup atap, kami tetap menggunakan genteng tanah liat tradisional sebagai bentuk komitmen,” ungkapnya saat memantau lokasi pekerjaan, Selasa (19/5/2026).
Dukungan dan Kenyamanan Ibadah
Keputusan untuk terus menggunakan genteng tanah liat di tengah popularitas material modern didasarkan pada tiga alasan penting. Pertama, kebijakan ini berkontribusi langsung pada perekonomian lokal. Satgas TMMD dengan sengaja memilih material dari pengrajin genteng di daerah agar mereka juga merasakan keuntungan dari program tersebut.
Kedua, secara praktis, genteng tanah liat lebih efisien dalam meredam suara hujan dibandingkan alternatif logam. Karakteristik dari bahan tanah liat mampu mengekang panas dari sinar matahari, sehingga suasana dalam mushola tetap nyaman dan mendukung kekhidmatan saat ibadah.
Ketiga, penggunaan genteng tradisional berperan penting dalam menjaga keselarasan tampilan bangunan ibadah dengan lingkungan sekitar, yang mayoritas tetap memelihara identitas lokalnya.
“Kami berupaya mengoptimalkan semua potensi yang ada di daerah. Dengan cara ini, para pengrajin genteng lokal merasakan manfaat langsung. Ketika pembangunan berjalan, perekonomian masyarakat di level bawah juga akan ikut berkembang,” tambah perwakilan Satgas.
Diharapkan, program TMMD ke-128 Kodim 0623/Cilegon ini tidak hanya menciptakan infrastruktur publik yang lebih aman dan nyaman tetapi juga berkelanjutan untuk mempromosikan produk-produk lokal di tengah arus modernisasi konstruksi nasional.
Tinggalkan Balasan